Pages

Kamis, 12 September 2013

Mengembangkan Modal Sosial Untuk Kemandirian Desa


“ Kelompok Sukses adalah Kalau merasa untung” ( Dadang Suherman / Kepala Desa Ciparanti Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran)

Penulusuran kali ini mang ojo di temani  Adi Hendiyus Kalintang dan Rahmat Suryanegara menelusuri pantai selatan di daerah otonomi baru kabupaten Pangandaran, (10/09)  Penulusuran bertujuan menggali nilai-nilai kebathinan  kepemimpinan desa yang memiliki kemurnian gagasan dengan keikhlasan bekerja dalam rangka mendorong kesejahteraan masyarakat, dan pada akhirnya kami bertemu dengan seorang Kepala Desa yang berlatar belakang sebagai ketua kelompok tani, gaya kepemimpinan nya sangat kental dengan pemikiran yang berlatar belakang kelompok tani sehingga nampak sosok beliau sebagai seorang Kepala Desa memiliki  visi dan misi yang pro kesejahteraan dan pro-poor  dalam menjalankan tata pemerintahan serta mengelola pembangunan di desanya, Beliau adalah Kepala Desa Ciparanti Kec. Cimerak Kab. Pangandaran, Kepala Desa  tersebut bernama Dadang Suherman.

Pemimpin Yang lahir dari akar rumput

Sebagai ketua kelompok tani pak Dadang Suherman berhasil mengembangkan kelompok taninya sehingga oleh masyarakat desa Ciparanti  beliau di percaya menjadi ketua panitia pemilihan Kepala Desa, namun rupanya sampai batas pendaftaran pilkades tidak ada seorangpun yang mendaftar, sehingga pak Dadang Suherman kemudian di daulat untuk  di calonkan sebagai kepala desa. Sebagai Kepala Desa yang di lahirkan dari akar rumput nampak kepemimpinan yang di bangun dalam tata kelola pemerintahan dan pengelolaan pembangunan di desa di bangun dengan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong, sehingga menciptakan tranformasi gagasan dari visi seorang pemimpin, tidak seperti pada umumnya desa –desa lain, seorang kepala desa lebih membentuk karakter  kaum priyayi baru di tingkat desa sehingga menciptakan jarak antara pemimpin dan masyarakat nya.

Dalam membangun komunikasi dengan staf/ kaur di desa di ciptakan suasana kekeluargaan tanpa tradisi unggah ungguh atau sikap priyayi seorang pemimpin, hal ini di buktikan dalam pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan, pada setiap kegiatan yang dilakukan di tingkat desa dalam mendorong swadaya masyarakat senantiasa di berikan contoh oleh para staf/kaur desa dengan ikut kontribusi dalam swadaya, meskipun di nilai kecil tetapi di harapkan memberikan contoh masyarakat untuk ikut berkontribusi dalam pelaksanaan  kegiatan pembangunan sarana/prasarana di desa.

Pak Dadang Suherman sebagai kepala desa mampu memahami posisi desa dalam kancah pengembangan perekonomian desa dengan kacamata orang desa, dengan tidak memandang desa maju dengan kelengkapan sarana-prasarana dan infrastruktur seperti layaknya kota, tetapi menjadikan desa sebagai sumber produksi untuk memperkuat desa dengan ciri khas desa tanpa gemerlap kota tetapi menghasilkan keuntungan untuk membangun kemandirian desa dengan sumber daya desa, tanpa harus mengundang investasi yang pada akhirnya mengekploitasi sumber daya alam desa yang cenderung merusak tatanan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran pakar sosiologi Douglass (1998) menyatakan: “…. Most analyses of growth centers in rural development assume the perspective of the city looking outward to its hinterland”..

Domba revolving untuk pelestraian bantuan domba sebagai modal sosial

Bentuk tranformasi yang dibangun adalah mendorong tumbuhnya kelompok-kelompok tani dan menerapkan perguliran ternak bantuan salah satunya kegiatan domba revolving.  Pada tahun 2011 sebanyak 11 kelompok mendapat bantuan ternak, sehingga usaha ternak domba, kelinci dan sapi menjadi potensi yang berkembang dan menjadikan sebagai salah satu sumber penghasilan pada umummnya masyarakat desa Ciparanti. Hingga saat ini Domba dan kelinci bantuan pemerintah masih ada di masyarakat dan berkembang sebagai contoh di kel. Pak Mufli saat ini domba nya mengalami perkembangan yang cukup baik ari 13 ekor domba saat ini bertambah menjadi 26 ekor. Inilah bentuk transformasi kepemimpinan Pak Dadang Suherman sebagai Kepala Desa, yang berhasil mengembangkan usaha ternak domba sebagai usaha masyarakat desa.

Ide domba revolving yang di gagas pak Dadang Suherman, berawal dari rasa keprihatinan beliau menyikapi tidak lestarinya modal bantuan domba di masa lalu yang di sebabkan sikap-mental masyarakat serta kurangnya pembinaan sehingga domba bantuan tidak berkembang bahkan hilang /raib dengan hanya meninggalkan kandang domba kosong.  Pengamatan tentang kondisi tersebut ditelaah dengan membangun komunikasi “ blusukan” dengan masyarakat, hingga berkesimpulan bahwa “ Sukses versi masyarakat adalah bila merasakan untung”, makna kalimat ini cukup mendalam, karena selama ini kita salah mempersefsikan bahwa dengan bantuan pasti untung, namun tidak selamanya ini dipahami masyarakat. Bentuk bantuan terkadang tidak memberikan keuntungan atau rasa untung bagi masyarakat sebagai contoh  adalah hal beikut ini :
  • Bantuan Tidak tepat waktu, Bantuan ternak pada musim yang tidak tepat contoh musim kemarau menyebabkan betapa sulit  mendapatkan sumber pakan sehingga menjadi beban dan situasi yang tidak menguntungkan masyarakat .
  • Bantuan Tidak Tepat Sasaran, Sasaran Bantuan pada umumnya hanya pada sasaran miskin saja tidak memperhatikan aspek lainnya sebagai syarat penerima sasaran bantuan, seperti biasa memelihara domba ( memiliki keterampilan dasar beternak ), petani yang tidak memiki keterampilan dasar beternak pada umumnya tidak berhasil karena tidak telatin dalam merawat dan memelihara domba

Rasa untung tidak dirasakan pagi penerima bantuan domba selama ini, di perparah tidak adanya pembinaan berkelanjutan dari instansi pemberi bantuan, sehingga pada akhirnya memunculkan kondisi prustasi dalam mengelola bantuan domba, yang pada akhirnya tidak sedikit domba bantuan di jual, di biarkan tidak terawat,  dan bahkan di sembelih untuk konsumsi.

Selain pengembangan usaha pada petani ternak, desa Ciparanti  berhasil mengembangkan kegiatan usaha rakyat pada pengolahan kerajinan makanan rakyat seperti ranginang dan opak yang sampai saat ini belum bisa dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan pasar lokal di desa. Produksi kerajinan makanan ini menjadi kegiatan utama kaum perempuan di desa ciparanti untuk menambah penghasilan keluarga, meskipun pemasaran belum menembus ke desa atau wilayah lainnya tetapi cukup memberikan hasil bagi peningkatan ekonomi keluarga, karena potensi pasar di dalam desa masih sangat terbuka.

Peningkatan Kualitas Pendidikan masyarakat

Bentuk keprihatinan Pak Dadang Suherman terhadap permasalahan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, tingginya buta hurup, tinggi pustus sekolah  dan tingginya kemauan belajar masyarakat, Pak Dadang Suherman memprakarsai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat ( PKBM ) Tunas Bahari yang saat ini memilki warga belajar 144 orang paket C, 54 orang paket B. Untuk mendorong jiwa kewirausahaan dan pengembangan potensi perikanan di desa, Pak Dadang Suherman selaku Ketua Penyelenggara PKBM  menginisiasi lab site kolam percontohan dalam kegiatan PKBM, sehingga masyarakat memilki keterampilan dalam mengembangkan  perikanan air tawar.

Untuk menunjang kegiatan PKBM Desa Ciparanti mengusulkan Bangunan PKBM dan Sarana-prasarana serta  fasilitas penunjang lainnya ke rencana  usulan PNPM Mandiri Perdesaan tahun 2014. Usulan tersebut diharapkan mampu membangun pengembangan potensi ekonomi untuk mendorong kesejahteraan masyarakat desa.

1 komentar: