Pages

Senin, 15 Juli 2013

MEMBUMIKAN NILAI-NILAI KULTURAL DALAM SISTEM PEMBANGUNAN DAERAH BERBASIS KECERDASAN LOKAL

Nilai-Nilai Budaya dalam Konsep Pembangunan Kab. Majalengka dan Kab. Sumedang 

“Without men, no culture, but more importantly than that, without culture, humans would not exist "Tanpa manusia, budaya tidak ada, namun lebih penting dari itu, tanpa budaya, manusia tidak akan ada” (Clitford Geetz) 

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi dan paling beradab dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Sehingga dalam teks Pancasila sila pertama menegakan Sila ketuhanan yang mahasa esa sebagai pondasi tertinggi, dan tek sila kedua menggambarkan keberadapan manusia bingkai Kemanudian yang adil dan beradab. Keberadaan manusia di alam tidak bisa di imbangi atau dibandingkan dengan ciptaan Tuhan lainnya, seperti benda mati, tumbuh-tumbuhan ataupun  binatang yang tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali ada dorongan atau tindakan dari ciptaan Tuhan lainnya sebagai makhluk hidup terhadapnya. Sehingga benda mati, tumbuhan, binatang seringkali dijadikan alat untuk membantu atau menopang kehidupan manusia karena  manusia dengan kemampuan pikiran dan akal budinya sehingga menjadikan manusia menjadi makhluk budaya. 

Sebagai makhluk berbudaya manusia memiliki kemampuan mengolah dan mengelola seluruh potensi diri dan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk diri sendiri maupun secara komunal, kegiatan komunal menciptakan kelembagaan budaya menjadi nilai-nilai bersama yang mengikat untuk mencapai tujuan bersama, sehingga menyebabkan spiritualitas penggerak untuk mencapai kesejahteraan dalam tujuan bersama. 

Salah satu nilai budaya manusia adalah perilaku gotong-royong merupakan kecerdasan kolektif sehingga dapat mengambil peran dengan merespon sinyal dari siapa saja untuk mencapai tujuan bersama meski hal inipun di miliki binatang seperti semut, serangga, burung. Nilai-nilai budaya pada dasarnya adalah upaya mencapai tujuan bersama, sebagai bentuk kejeniusan atau kecerdasan lokalita. Kecerdasan Lokal menurut Haryati Soebadio adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri 

Dalam paparan Budiman Sujatmiko pada Seminar IPPMI di depok menggambarkan bahwa bingkai yang merangkai 5 Neksus Kebangkitan Desa, meliputi bingkai pertama adalah adanya diversitas sebagai kekayaan bangsa/desa indonesia yaitu kompleksitas geologis/geografis, kompleksitas bahasa dan Diversitas kultural. Kompleksitas alam dan bahasa tersebut, pada akhirnya melahirkan diversitas kultural berupa sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan serta kesenian. Hal ini yang menciptakan budaya dalam sistem pelembagaan masyarakat. 

Bila kita mencermati berdasarkan pengalaman  Korea Selatan, Jepang, China, Malaysia, Jerman memperlihatkan keberhasilan pengelolaan pembangunan negara berbasis budaya telah membuktikan budaya akar mampu membangun spiritualitas pembangunan. 

Dengan demikian re-inventing the cultural heritage of Nation mampu meletakan dasar spiritualitas menggerakan organik masyarakat / bangsa sehingga gerakan horizontal dari masyarakat budaya dengan mengikhtiarkan budaya lokal masuk harus diiringi dengan perlindungan secara vertikal dari pemerintah serta mendorong budaya lokal menjadi trend harus sejajar dengan kebijakan politik.

Di Indonesia seperti yang di gambarkan Budiman sujatmiko memiliki kekayaan yang luar biasa dan mampu menciptakan nilai-nilai dasar untuk kembali bangkit membangun bangsa dengan kekuatan budaya dengan lebih membumikan nilai-nilai budaya kedalam aspek-aspek pembangunan di daerah dan desa sesuai dengan kondisi nilai-nilai budaya yang berkembang di daerahnya. Berikut ini kami sampaikan gambaran konsep pembangunan daerah yang di bangun dengan berbasis pada nilai-nilai budaya lokal  di kabupaten Sumedang dan kabupaten Majalengka. 

Nilai Budaya pada konsep pembangunan kab. Sumedang 

Masyarakat Sunda Memiliki Budaya Yang Sangat Berharga Berupa Keseluruhan prilaku dan hasil karya  baik bersifat fisik maupun non fisik yang diperoleh dari proses belajar dan adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang diyakini dapat memenuhi harapan dan kebutuhan hidup masyarakat sunda.
 

Nilai Budaya Sunda Oleh para pendahulu (Karuhun Sunda) Telah mampu diimplementasikan dalam manajemen pemerintahan dan laju pembangunan jaman dulu dimana sekarang justru baru menjadi trend pembangunan masa kini, sebagai contoh kabupaten Sumedang memiliki

Nilai Filosofis 

 “Insun Medal Insun Madangan” artinya aku lahir untuk memberi penerangan. 

Nilai Manajerial (Rawayan Jati Sunda)

·         Fase Perencanaan           : Sirnaning Cipta; Sirnaning Rasa; Sirnaning Karsa.
·         Fase Pengorganisasian  : Sirnaning Karya.
·         Fase Pelaksanaan            : Sirnaning Diri; Sirnaning Hirup; Sirnaning Hurip.
·         Fase Pengawasan            : Sirnaning Wujud.

Nilai Operasional (Dasa Marga Raharja) :


Taqwa; Someah; Surti; Jembar; Bruk Brak; Guyub; Motekar; Tarapti, Taliti, Ati-Ati; Junun Jucung; Punjul Luhung. Dalam Implementasinya Nilai nilai yang dibangun oleh PNPM Mandiri lebih menjiwai jika menggunakan nilai-nilai bahasa yang mudah di pahami masyarakat desa seperti contoh dibawah  :
  • Transparansi, di desa dikembangkan melalui semangat “BRUKBRAK”, dimana semua pemangku kepentingan secara sukarela serta berdasarkan panggilan hati harus saling terbuka dan membuka diri. Sisi baik maupun buruknya harus dibicarakan secara bersama-sama. Orang desa bilang “Hade Goreng Ku Omong”.
  • Akuntabilitas  di desa dikembangkan melalui semangat “JUNUN JUCUNG”, dimana semua pekerjaan pembangunan harus diselesaikan secara tuntas serta dapat dipertanggungjawabkan. Orang desa bilang “Rengse Pancen Dipigawe, Tuntas Tugas Dipilampah”.
Nilai Budaya pada konsep pembangunan kab. Majalengka 

Kabupaten Majalengka menerapkan Konsepsi Budaya kedalam Tiga Bingkai Nilai Pembangunan berbasis  Budaya yaitu pada Nilai filosofis, Nilai Manajerial dan Nilai Operasional dengan rincian sebagai berikut : 

Nilai Filosofis
Nilai filosofis Pembangunan Kabupaten Majalengka, terkait erat dengan nilai historis Majalengka yang bermula dari nama kerajaan Sindangkasih. Sindangkasih merupakan wilayah yang sugih mukti (subur makmur) dan rakyat yang bagja raharja (bahagia) yang kemudian menjadi nilai filosofis pembangunan partisipatif Kabupaten Majalengka dari masa ke masa sebagaimana menjadi tujuan utama Program Sabilulungan.

Nilai Manajerial
Nilai manajerial terkait dengan visi Kabupaten Majalengka Remaja (religius, maju dan sejahtera). Dalam mewujudkan visi di atas, telah ditetapkan Strategi Gerakan Membangun Masyarakat Religius, Maju dan Sejahtera (Gerbang Mas Remaja) Nilai-nilai yang terkandung dalam Program Sabilulungan merupakan manifestasi dari Sapta Mandala Panta-panta (Tujuh Wilayah Sakral Berjenjang) sebagai integrasi filosofis manajerial yaitu:

  • Mandala Kahiyangan , Mandala kahiyangan hakikatnya adalah manifestasi aura Ketuhanan yang terkandung dalam visi pertama Kabupaten Majalengka, yaitu mewujudkan masyarakat yang religius.
  • Mandala Kahayangan, Di dalam teori manajemen, fase kahayangan merupakan fase perencanaan, yang berarti juga pernyataan kahayang (keinginan) yang dituangkan dalam sejumlah rencana terpadu.
  • Mandala Paniatan, Mandala paniatan berhubungan dengan fungsi pengorganisasian, yakni fase penetapan niat dan kehendak melalui pengukuhan organisasi.
  • Mandala Patarekahan, Mandala patarekahan merupakan nilai-nilai kearifan lokal yang mengarah kepada fungsi penggerakan (actuating) dalam teori manajerial.
  • Mandala Pagelaran, Mandala pagelaran adalah nilai kultural berikutnya yang mengarah kepada fungsi pengawasan dalam manajemen.
  • Mandala Patembongan, Mandala patembongan merupakan nilai kultural yang merujuk kepada pertanggungjawaban.
  • Mandala Pangantenan, Mandala pangantenan adalah nilai kultural yang merujuk kepada hasil yang dapat dinikmati oleh semua unsur dan lapisan masyarakat. 
Program Sabilulungan diharapkan menjadi bukti rangkaian cinta kasih yang diwujudkan melalui kerja Sabilulungan, gotong royong, sekaligus pengejawantahan partisipatif masyarakat.

Nilai Operasional

Nilai operasional program ini tercermin dalam rangkaian kata-kata “ SAUYUNAN BABARENGAN ILUBIUNG NGALULUGUAN PANGWANGUNAN ” yang disingkat SABILULUNGAN.

  • Sauyunan, memiliki arti seia sekata, sebuah komitmen untuk melakukan melaksanakan program kerja dan mencapai tujuan bersama;
  • Babarengan, memiliki arti bersama-sama melaksanakan pekerjaan atau gotong royong,
  • Ilubiung, memiliki arti turut serta dalam kegiatan pelaksanaan program atau partisipatif.
  • Ngaluluguan, memiliki makna menjadi pionir, menjadi yang pertama mengerjakan sesuatu, teladan bagi para penerus program berikutnya;
  • Pangwangunan, merupakan tujuan utama program, yaitu pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. 
Nilai-Nilai Budaya yang digali dari kecerdasan lokal masyarakat senantiasa mencakup aspek Ketuhanan sebagai Nilai Filosofis, Aspek Kehidupan Sosial sebagai Nilai Manajerial dan Aspek Etika dalam Nilai Operasionalisasinya.

Sumber :
  • PAPARAN PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DAERAH BERBASIS INTEGRASI PERENCANAAN TEKNOKRATIS, POLITIS DAN PARTISIPATIF DI KABUPATEN SUMEDANG
  • PTO SABILULUNGAN KAB MAJALENGKA

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar