Berawal dalam perjalanan pulang dari rapat koordinasi
Asosiasi UPK Ciamis ( APU ) yang dilaksanakan di Kawasan Bendungan Cimanganti
RM. Mbah suro, Kecamatan Kedungreja kabupaten Cilacap yang berbatasan dengan
kecamatan purwadadi kab. Ciamis ( 20/08) berlangsung diskusi serius dalam perjalanan dimulai membahas eloknya penataan kawasan bendungan
di sekitar RM mbah Suro yang mencerminkan konsep pengembangan wilayah wisata
berbasis wisata bendungan yang di prakarsai mbah suro sampai diskusi pemetaan
potensi wilayah sepanjang jalan menuju Ciamis serta isyu strategis PNPM terkait gagasan/usulan yang dapat mengembangkan dampak pengembangan
ekonomi wilayah, atau PEP ( Pengembangan
Ekonomi Perdesaan ) kalau isitilahnya kawan
Lendy Wibowo ( NMC ).
Tibalah di terminal Ciamis untuk sejenak ngopi, sebelum
meneruskan ke sekretariat Faskab PNPM di wilayah panoongan, terpancing kembali
cerita – cerita kawan Wawan Darnawan dan M. Widiyantoro dari diskusi informal dengan para kepala desa serta tergagas
memahami kembali isyu paket usulan yang di sounding kawan Wawan Darnawan,
mulailah terjadi diskusi interaktif dan menarik Wa Haji Uun, mang Ojo, Wawan
darnawan, mas Wid yang lebih tajam pada pemikiran kritis implementasi program selama
ini yang ternyata lebih didominasi usulan-usulan kegiatan desa yang tidak
tuntas menjawab persoalan-persoalan di desa seperti kemiskinan, kesejahteraan,
pengangguran, dan pengembangan ekonomi.
Merefleksikan Kembali
Sistem Paket Usulan
Paket Usulan menjadi thema yang sangat menarik untuk di kaji
lebih dalam sehingga menjadikan pemahaman kritis dan strategis untuk terus di
hembuskan menjadi isyu agar melahirkan
kesadaran kritis masyarakat dan penggiat pembangunan desa ( pemerintah desa,
lembaga desa dan kader-kader desa).
Selama ini kegiatan yang di danai program
hanya partial tidak menjawab tuntas kebutuhan masyarakat atau permasalahan
yang di hadapi masyarakat, contoh saat ini masih banyak ditemukan usulan
kegiatan sebatas bangunan posyandu saja, TPT saja, pembangunan Jalan saja, dll.
Jarang sekali kegitan usulan sebagai paket utuh seperti Bangunan Gedung Pelatihan dengan Pengadaan mesin jahit, serta
pelatihan-pelatihan yang mendukung sarana-prasarana yang sudah di fasilitasi,
pada kegiatan lainnya jarang sekali pembangunan gedung posyandu, di paketkan
dengan pengadaan kebutuhan pelayanan posyandunya, pelatihan –pelatihan
pendukung, pengadaan media, serta
kegiatan-kegiatan pelayanan posyandu ( PMT, dll ).
Permasalahan yang menghambat kualitas gagasan/ usulan
kegiatan biasa dipengaruhi pemahaman elit/apartur pemerintah desa yang mememahi
kegiatan pada partial kegiatan sarpras yang tidak berdampak pada kebutuhan
tetapi pada keinginan kelompok masyarakat atau intervensi elit/pemerintah desa
yang disebabkan keengganan melakukan prioritas karena tekanan kecemburuan
sosial sehingga terjadi pemerataan usulan desa, sehingga kegiatan yang didanai
program tidak menjawab tuntas kebutuhan masyarakat.
Kepala Desa perempuan dalam pembahasan diskusi menjadi
menarik karena kades perempuan banyak dekat dengan pengayaan identifikasi
aspirasi yang berasal dari perempuan karena lebih dekat berkomunikasi dengan
perempuan, perempuan lebih memiliki gagasan kreatif, dibanding gagasan campuran
yang pada umumnya di dominasi kaum lelaki dalam pengambilan keputusannya, sehingga untuk
mendorong gagasan kreatif dan mendukung pengembangan ekonomi dan
pemberdayaan maka muncul beberapa
rekomendasi untuk disusun RKTL Penguatan pada pelatihan-pelatihan dan forum – forum sbb :
- · Pelatihan Kepala Desa fokus pada Pengembangan Ekonomi Perdesaan dan merancang integrasi pembangunan desa yang pro-pertumbuhan ekonomi
- · Pelatihan Kepala Desa perempuan dengan pembekalan berbagai perspektif pembaharuan di era perubahan sejalan dinamika masyarakat dan perkembangan politik.
- · Pelatihan Pendamping Lokal menekankan pada pengembangan dan pendampingan kelompok, pengembangan kawasan, penguatan perspektif baru HAM, Keadilan Gender, Kaderisasi,dll
- · Meningkatkan diskusi informal para fasilitator dengan para pemangku terutama kepala desa yang tidak normatif tentang permasalah keproyekan PNPM tetapi lebih menggagas potensi dan pengembangan desa, sehingga gagasan desa dalam kegiatan yang di usulkan dalam RKP Desa lebih pada pro-pertumbuhan desa, yang didorong untuk memahami kembali paket-paket kegiatan RKP.
Berbagi Pengalaman melakukan
Analisa menggagas Paket Kegiatan berbasis potensi Ekonomi Desa
Pengembangan Paket Usulan kegiatan sarana/prasarana dan
peningkatan kapasitas dapat di sinkronisasi dengan kegiatan pembiayaan kegiatan
mikro di masyarakat baik untuk kegiatan bersifat simpan pinjam atau kegiatan
ekonomi produktif, baik dalam paket langsung atau tidak langsung yang terangkai
pada konsep pengembangan ekonomi wilayah perdesaan dengan basis potensi lokal.
Wa haji Uun berdasarkan pengalamannya dalam pengembangan perkrediatan, usaha
berbasis pembiayaan kegiatan mikro masyarakat semasa inisiasi Bank Muamalat
Syariah mencoba berbagi memberikan tools analisa untuk mengidentifikasi potensi
pelaku usaha dan permodalan serta pangsa pasar nasabah UPK Kedepan, wa
haji menggambarkan pemetaan sbb :
Kebutuhan / Modal
|
Tinggi
|
Sedang
|
Rendah
|
Tinggi
|
TT
|
TS
|
TR
|
Sedang
|
ST
|
SS
|
SR
|
Rendah
|
RT
|
RS
|
RR
|
Pemetaan diatas dapat di petakan untuk memeprtajam pemetaan
sosial dan hubungan ekonomi dengan peran kelembagaan kelompok atau kelembagaan
UPK sebagai contoh :
- · Individu berkebutuhan Rendah dengan Modal Tinggi dapat di posisikan sebagai Penambung / penanam modal serta bapak angkat usaha
- · Individu berkebutuhan tinggi dan Modal rendah dapat menjadi pangsa pasar kelompok –kelompok UPK yang diperkuat dengan penambahan modal dan peningkatan kapasitas, dll
- · Dan kombinasi lainnya yang layak di didiskusi lebih mendalam
Analisa selanjutnya untuk menganalisa kebutuhan permodalan
selanjutnya mempertimbangkan analisa sebagaimana umumnya yang dilakukan lembaga
pembiayaan seperti 5 C ( Character,Capital,
Capacity, Condition, Colateral ) , meskipun untuk pangsa yang pasar UPK juga perlu memperhatikan aspek
kelembagaan karena nasabah bersifat kelompok bukan individu-individu.
Pada prinsipnya model fasilitasi terarah perlu di kembangkan
dengan turut langsung dalam praktek usaha-usaha yang melekat dan dekat di masyarakat, sehingga seorang fasilitator
benar-benar “mengajari berenang dekat
dengan Kolam renang” mendekatkan dan memudahkan jiwa usaha dalam lingkungan
kehidupan ekonomi yang siap bertarung sebagai pelaku ekonomi masyarakat.
Kesamaan Harapan
dengan email pak Ibnu di Milis IPPMI
Sesampai di kantor faskab gagasan diskusi merefleksikan pola
fasilitasi dalam pemberdayaan masyarakat rupanya tidak berhenti, penguatan gagasan gayung bersambut setelah
membaca milisnya pak Ibnu Taufan mencermati perjalanan panjang jejak kata data 15 tahun PNPM, pada email
beliau menuliskan beberapa kritik dari berbagai pihak sebagai berikut
:
TETAPI, saya masih sering terganggu dengan beberapa pernyataan beberapa
pemangku kebijakan, seperti juga kesimpulan peneliti dalam artikel2 ini ...
Misalnya,
"..dalam pelaksanaan PNPM, aspirasi warga miskin kerap tak
terwakili, khususnya dalam menentukan usulan proyek yang akan diambil .."
atau, seperti ini ...
"..infrastruktur dinilai tidak memberikan manfaat ekonomi secara
langsung kepada seluruh warga ..
Inilah realitas yang sudah kita alami selama bekerja dalam
fasilitasi kegiatan di program besar ini, tetapi kesalahan ini tidak sepenuhnya
kita tumpahka pada pendampingan tetapi bagaimana tata kelola manajemen program
yang juga turut merusak tujuan sebenarnya dari program itu sendiri.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar