Saat Kunjungan ke UPK Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis (19/08) tiba-tiba datanglah seorang perempuan paruh baya, rupanya beliau adalah ketua kelompok yang akan menyetorkan setoran pinjaman kelompoknya, hal menarik perhatian pada saat itu manakala saya mencuri dengar cerita si Ibu pada bendahara UPK saat menerima setoran, yang kemudian saya ketahui ternyata bernama Elih (42 Th ), dan terdengar cerita bu elih betapa sibuknya pagi tadi menunggu setoran hari ini dari sopir mobil angkutan antar kota, tadinya terbesit dalam pikiran kok yang setor para sopir angkutan antar kota, kan SPP ( simpan Pinjam Kelompok Perempuan ), muncul dalam benak saya pertanyaan apa ada sopir angkutan yang perempuan yang menjadi anggota kelompok UPK, akhirnya saya mencoba ngobrol dengan bu elih awalnya sih kesana-kemari ngobrolnya, maklum supaya tidak kaget dan supaya si ibu nyaman di ajak ngobrolnya, dan akhirnya mulai si Ibu banyak bercerita lepas tentang kelompoknya yang anggotanya ternyata mayoritas sekitar 25 orang berusaha dagang di luar kota yaitu di bandung.
Pada awalnya saya berpikir kelompok ini pasti sering nunggak/macet, tetapi pikiran saya terjawab akhirnya oleh cerita Ibu Elih yang kemudian ternyata beliau adalah koordinator kelompok yang mengkoordinir 3 kelompok di dusun Caringin desa Cibeureum terdiri dari kelompok Melati Indah 1, Melati Indah 2, dan Melati Indah 3. Kelompok –kelompok yang di koordinir Ibu Elih Tidak pernah nunggak dan selalu membayar pinjaman tepat waktu sejak tahun 2003 di saat UPK masih menginduk pada UPK Kecamatan Panjalu.
Kelompok-Kelompok Ibu Elih pada umumnya adalah anggota yang memiliki usaha perdagangan 5 orang berdagang di desanya, sedangkan 25 orang lainnya berdagang di kota bandung yang rata-rata berjualan kelontongan dan kembali ke desanya hanya 2 bulan sekali bahkan ada yang 3 bulan baru ke desanya, Ibu Elih sendiri memilih usaha berdagang di desa sendiri dengan berjualan mie-bakso di tempat yang strategis yang senantiasa dilalui mobil colt elf angkutan antar kota dalam propinsi ( AKDP) jurusan Bandung-Panjalu.
Ibu Elih banyak mengenal betul sopir dan kernet angkutan yang sering melalui desa, bahkan rehat ngetem sambil ngebaso di warungnya ibu Elih, terkadang di tempat itulah terjadi transaksi setoran pinjaman kelompok yang seringkali di titipkan melalui sopir/kernet, memang terkesan begitu riskan setoran model ini, tetapi inilah realita di desa-desa yang jauh dari kota budaya titip menjadi pilihan karena ongkos biaya setor ke UPK membutuhkan biaya transfortasi yang cukup mahal terlebih paska kenaikan BBM, apalagi anggota-anggota kelompok yang di koordinatori Ibu Elih yang berdagang di luar kota, untuk meminimalisasi resiko Kelompok Ibu Elih memiliki Slogan kelompok “Pinjam itu Gaul, Gaul kudu punya HP usaha jadi lancar”ungkapan sederhana ini memang betul dan ternyata anggotanya memiliki HP sebagai alat komunikasi, meskipun jaraknya jauh kalau setoran di titipkan memang anggota biasanya SMS bahwa setoran sudah di titipkan, selanjutnya Ibu Elih menjaga komunikasi dan sering berhubungan baik dengan para sopir/kernet angkutan bahkan menjalin MOU meskipun tidak seperti MOU kelembagaan, tetapi komitmen untuk saling amanah demi membangun desa.
Ibu Elih setiap tanggal 15 senantiasa menunggu setoran dari warungnya yang sekaligus merangkap beliau jadikan sebagai sekretariat kelompok. Setoran titipan melalui sopir/kernet angkot biasanya memilki jadual yang jelas antara pukul 7.00 pagi dan pukul 13.00 siang. Kondisi rutin yang di jalankan Ibu Elih ini, memunculkan gagasan Ibu Elih ingin mendirikan “Kokoperasian” ( Pra-Koperasi ), den gan menjadikan warungnya sebagai sekretariat, sehingga untuk merealisasikan cita-citanya ibu elih mewajibkan anggota kelompok untuk menabung, meskipun tabungan saat ini yang dikelola masih kecil. Cita-cita yang digagas ibu Elih tidak lepas dari sebuah keyakinan beliau bahwa selama mengelola kelompok dari tahun 2003 yang di awali hanya mendapatkan pinjaman awal hanya 1Rp. 150.000,-/per-orang,saat ini pinjaman nya meningkat menjadi Rp. 2.000.000,-/anggota dengan usaha anggota yang cukup berkembang dari omzet perdagangannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar