Pages

Jumat, 30 Agustus 2013

Bukan Sekedar Hobi Tetapi Menata Kembali Program

Sebuah catatan pertandingan futsal persahabatan Ciamis dan Majalengka

Dalam rangka untuk menyembuhkan dan tetap sehat sangat penting untuk benar-benar memahami dan menerima prinsip fisiologis bahwa tubuh adalah penyembuh apalagi seorang fasilitator , ia tidak boleh sakit karena ia sangat di perlukandan dibutuhkan masyarakat.

 “ Seorang Fasilitator harus mampu menyembuhkan dirinya sendiri “, demikian di sampaikan Mr. I Made Budi Astawa, spesialis training NMC PNPM Mandiri Perdesaan.

Bertempat di Cingambul kabupaten Majalengka (28/08) Tim Futsal Galuh Berdaya kabupaten Ciamis yang di perkuat Viking Cilacap PSCS serta  PSP ( Panoongan ) berkesempatan bertandang ke kandang Pasukan Sindangkasih yang di asuh Agus Viking Salim.
Dengan Semangat Mahayunan Ayunan Kadatuan Tim Galuh berdaya yang di komandani Rahmat “Benzema” Suryanegara berhasil menekuk lutuh pasukan Sindangkasih dengan skor 26-19, pertandingan berjalan seru dan berimbang, di awal pertandingan tim Ciamis kebobolan terlebih dahulu melalui sebuah tendangan yang cukup keras dari Nur Cirebon.

Pertandingan berlangsung 2 x 60 menit  merupakan pertandingan yang sangat memacu terkurasnya energi,namun demikian nampak kedua Tim tidak mengenal rasa lelah dengan melakukan strategi “perguliran” pemain ataupun perguliran posisi, seperti yang dilakukan di Tim Ciamis dengan memposisikan striker kuatnya Haris Neymar menjadi Penjaga Gawang, juga Meisi Widyantoro sempat di posisikan sebagai penjaga Gawang. Di Tim Majalengka yang di komandani Duet kapten  Jajat-Yayat melakukan strategi Perguliran pemain meskipun dengan Stock Bank Pemain yang relatif sedikit sehingga juga menurunkan pemain bayaran termahal dari juventus ( bajunya saja ) yang tampil gemilang dalam pertandingan tersebut dan membuat kewalahan pemain  Sayap dan Belakang Tim Ciamis yaitu  Ali Drogba , Asof Gomes, Aswi Matta.

Pertandingan Futsal Persahabatan Kabupaten Serumpun ( Ciamis – Majalengka ) bukanlah sekedar menyalurkan hobi, melainkan bagaimana upaya para fasilitator  merekontruksi :


  •  Kesehatan fasilitator self community In healing dalam menata Tim Kerja, untuk menguras racun penyakit yang menggerakan fungsi organ menjadi siap memfasilitasi menuju masyarakat yang berdaya
  •  Membangun Kesehatan Jiwa dan Pikir dengan memanjangkan tali komunikasi, silaturahim dan sharing, meraut persaudaraan sesama fasilitator untuk merapatkan barisan sebagai kader pejuang pemberdayaan masyarakat
  •  Meneguhkan Tim Kerja untuk memahami peran dan fungsi organisasi pemberdayaan ( Tim Faskab, FK/FT, UPK dan Pelaku lainnya ) .               
Kesehatan adalah hasil dari kebiasaan sehat, dan penyembuhan memerlukan komitmen, ketekunan dan kesabaran. Tubuh dapat memperbaiki diri, sedikit demi sedikit, setiap saat, namun penyembuhan tidak selalu ber proses dengan cepat. Tidak ada jalan pintas untuk kesehatan, dan, pembelajaran penyembuhan dalam hidup dapat diperoleh dengan melihat proses penyembuhan diri .

Ungkapan Mr.  I Made Budi Astawa meng-inspirasi  kita semua untuk merefleksikan apa yang telah kita alami dan  ungkapan itu tentunya memiliki latar belakang ‘asbabul ayat’, ‘sebab-ungkap’  serta  memang tidak berlebihan rasanya terhadap pernyataan tersebut, melihat realitas yang dialami kawan-kawan fasilitator di PNPM Mandiri yang akhir-akhir ini banyak mengalami permasalahan dalam hubungan kerja dan Kinerja dalam program yaitu sebagai berikut :

Meningkatnya kesakitan bahkan kematian para fasilitator.
Penyakit yang dialami kawan-kawan fasilitator diantaranya adalah penyakit Jantung, Ginjal, dan stroke, kalau mencret dan diare mah hanya penyakitnya “eyang imin” saja. Angka kejadian sakit dari penyakit yang ditimpa fasilitator setidaknya lebih dari 50 orang fasilitator mengalami hal ini, meskipun bukan hasil survey tapi fakta hasil ngobrol-ngobrol kawan fasilitator di semua kabupaten di jawa barat, tentang kepastian angka  mudah-mudahan bisa di gali dari kawan-kawan di kabupaten atau data RMC, kita akan tanyakan ke Gus Yasin “ALI KIE”.

Tingkat stress yang tinggi  telah menjadi burn-out  sebagai suatu penyakit yang  menimpa para pelayan masyarakat dan berdampak pada sikap-sikap yang tidak kritis, kurangnya anthusiasm , hilangnya kepekaan sosial, dan lain-lain, sehingga pada akhirnya beberapa Kawan fasilitator mengalami disfungsi organ vital yang menyebabkan kesakitan bahkan kematian.

b.      In-harmonisasi Kerja Tim
Kondisi ini seringkali dirasakan dan nampak terlihat pada munculnya permasalahan-permasalahan   yang di tenggarai tidak terbangunnya komunikasi intensif antar pelaku di berbagai tingkatan baik baik desa-kecamatan, kecamatan-kabupaten, kabupaten-propinsi, propinsi-pusat, atau se-levelnya.

Tentunya banyak hal yang menyebabkan kondisi diatas terjadi di antaranya :

Faktor internal  dari fasilitator itu sendiri

Hal ini bergantung bagaimana kawan-kawan fasilitator mampu mengelola Energi dan Waktu dalam melakukan  tugas pokok dan fungsi, yang tentunya perlu keseimbangan mengelola Energi ( kondisi kesehatan, diantaranya) sehingga vitalitas terjaga dalam mengawal kegiatan pemberdayaan masyarakat.

Faktor Managerial  Program

Faktor ini Tidak kalah besar berkontribusi negati pada  kondisi kesakitan para fasilitator dan In-harmonisa Tim kerja yang memuncul/melahirkan  watak negatif pengelolaan program yang  kaku, pada dominasi administrasi dan hirarkis yang sepatutnya di ada dalam proses pemberdayaan seperti  :

  • Sikap represif  dalam hubungan kerja berjenjang  ( wah kayak orde baru saja ) yang disebabkan perbedaan  pemahaman dalam tata kelola program yang berbasis pemberdayaan yang selanjutnya menimbulkan persinggungan pemahaman  dan bermuara pada konflik karena sikap-sikap yang tidak dewasa, egoisme jenjang  kerja baik antara supervisor dan mitra kerjanya di lapangan atau di level bawahnya.
  • Pemenuhan kebutuan program yng masih didominasi kegiatan Administrasi dan instrumen-instrumen yang kaku apalagi  dibumbui kata  “target” menjadi makanan sehari-hari dari pekerjaan fasilitator PNPM Mandiri, kerja dalam tekanan menjadi bagian yang tidak dapat  dihindari, baik tekanan supervisor atau tekanan masyarakat.
  • Sempitnya ruang bekerja yang tidak memberikan keleluasaan bergerak seorang fasilitator dalam membangun relasi sosial , sharing kerja, baik di tingkat kecamatan bahkan antar kabupaten. Ruang Kerja masih di dominasi  dan di batasi lingkup kecamatan atau desa dengan sebutan wilayah kerja dampingan saja.

Saatnya kita membangun jiwa dengan membangkitkan kesadaran kritis melalui refleksi kinerja yang kita bangun bersama. sebagai fasilitator masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar