Senin (7/04) Bertempat di Aula BKBPMD kabupaten Ciamis diselenggrakan Rapat Tim koordinasi PNPM mandiri perdesaan kabupaten Ciamis dengan para SKPD dengan agenda pembahasan review PTO PNPM SPP-SPPN integrasi, rapat di pimpin Drs. Dian Budiyana,M.Si selaku PjOKab PNPM Mandiri Perdesaan Ciamis ( satker PNPM MPd ).
Isu-isu strategis yang muncul sebagaimana disampaikan Faskab PNPM MPd Kabupaten Ciamis Ir. H. Uun Untamiharja adalah mendorong proses pengintegrasian perencanaan partsipatif, politik dan teknokratis dengan upaya memaduserasikan usulan partisipastif dalam bingkai kebijakan daerah dengan memperhatikan indikator pencapaian target pengentasan kemiskinan di kabupaten Ciamis.
Pada sisilain muncul gagasan landasan filosofis budaya menjadi bagian dalam membuat konsep pembangunan daerah yang disampaikan Ir. Sutardjo fasilitator Keuangan PNPM MPd Kabupaten Ciamis, dengan menggagas sebuah konsep terintegrasi pembangunan ciamis melalui segitiga landasan kerja yaitu Landasan filosofis, Landasan Manajerial dan Landasan operasional, selanjutnya Ir. Sutardjo menggambarkan contoh kabupaten Sumedang dan Kabupaten Majalengka yang menggali bentuk filosofi budaya dalam kontek landasan pembangunan daerah, yaitu sebagai berikut :
Nilai Budaya pada konsep pembangunan kab. Sumedang
Nilai Budaya Sunda Oleh para pendahulu (Karuhun Sunda) Telah mampu diimplementasikan dalam manajemen
pemerintahan dan laju pembangunan jaman dulu dimana sekarang justru
baru menjadi trend pembangunan masa kini, sebagai contoh kabupaten
Sumedang memiliki
Nilai Filosofis
“Insun Medal Insun Madangan” artinya aku lahir untuk memberi penerangan.
Nilai Manajerial (Rawayan Jati Sunda)
·Fase Perencanaan : Sirnaning Cipta; Sirnaning Rasa; Sirnaning Karsa.
·Fase Pengorganisasian : Sirnaning Karya.
·Fase Pelaksanaan : Sirnaning Diri; Sirnaning Hirup; Sirnaning Hurip.
·Fase Pengawasan : Sirnaning Wujud.
Nilai Operasional (Dasa Marga Raharja) :
Taqwa; Someah; Surti; Jembar; Bruk Brak; Guyub; Motekar; Tarapti, Taliti, Ati-Ati; Junun Jucung; Punjul Luhung.
Dalam
Implementasinya Nilai nilai yang dibangun oleh PNPM Mandiri lebih
menjiwai jika menggunakan nilai-nilai bahasa yang mudah di pahami
masyarakat desa seperti contoh dibawah :
- Transparansi , di desa dikembangkan melalui semangat “BRUKBRAK”, dimana semua pemangku kepentingan secara sukarela serta berdasarkan panggilan hati harus saling terbuka dan membuka diri. Sisi baik maupun buruknya harus dibicarakan secara bersama-sama. Orang desa bilang “Hade Goreng Ku Omong”.
- Akuntabilitas di desa dikembangkan melalui semangat “JUNUN JUCUNG”, dimana semua pekerjaan pembangunan harus diselesaikan secara tuntas serta dapat dipertanggungjawabkan. Orang desa bilang “Rengse Pancen Dipigawe, Tuntas Tugas Dipilampah”.
Nilai Budaya pada konsep pembangunan kab. Majalengka
Kabupaten
Majalengka menerapkan Konsepsi Budaya kedalam Tiga Bingkai Nilai
Pembangunan berbasis Budaya yaitu pada Nilai filosofis, Nilai
Manajerial dan Nilai Operasional dengan rincian sebagai berikut :
Nilai Filosofis
Nilai
filosofis Pembangunan Kabupaten Majalengka, terkait erat dengan nilai
historis Majalengka yang bermula dari nama kerajaan Sindangkasih.
Sindangkasih merupakan wilayah yang sugih mukti (subur makmur) dan rakyat yang bagja raharja (bahagia)
yang kemudian menjadi nilai filosofis pembangunan partisipatif
Kabupaten Majalengka dari masa ke masa sebagaimana menjadi tujuan utama
Program Sabilulungan.
Nilai Manajerial
Nilai
manajerial terkait dengan visi Kabupaten Majalengka Remaja (religius,
maju dan sejahtera). Dalam mewujudkan visi di atas, telah ditetapkan Strategi
Gerakan Membangun Masyarakat Religius, Maju dan Sejahtera (Gerbang Mas
Remaja) Nilai-nilai yang terkandung dalam Program Sabilulungan merupakan
manifestasi dari Sapta Mandala Panta-panta (Tujuh Wilayah Sakral Berjenjang) sebagai integrasi filosofis manajerial yaitu:
- Mandala Kahiyangan , Mandala kahiyangan hakikatnya adalah manifestasi aura Ketuhanan yang terkandung dalam visi pertama Kabupaten Majalengka, yaitu mewujudkan masyarakat yang religius.
- Mandala Kahayangan, Di dalam teori manajemen, fase kahayangan merupakan fase perencanaan, yang berarti juga pernyataan kahayang (keinginan) yang dituangkan dalam sejumlah rencana terpadu.
- Mandala Paniatan, Mandala paniatan berhubungan dengan fungsi pengorganisasian, yakni fase penetapan niat dan kehendak melalui pengukuhan organisasi.
- Mandala Patarekahan, Mandala patarekahan merupakan nilai-nilai kearifan lokal yang mengarah kepada fungsi penggerakan (actuating) dalam teori manajerial.
- Mandala Pagelaran, Mandala pagelaran adalah nilai kultural berikutnya yang mengarah kepada fungsi pengawasan dalam manajemen.
- Mandala Patembongan, Mandala patembongan merupakan nilai kultural yang merujuk kepada pertanggungjawaban.
- Mandala Pangantenan, Mandala pangantenan adalah nilai kultural yang merujuk kepada hasil yang dapat dinikmati oleh semua unsur dan lapisan masyarakat. Program Sabilulungan diharapkan menjadi bukti rangkaian cinta kasih yang diwujudkan melalui kerja Sabilulungan, gotong royong, sekaligus pengejawantahan partisipatif masyarakat.
Nilai Operasional
Nilai
operasional program ini tercermin dalam rangkaian kata-kata “ SAUYUNAN
BABARENGAN ILUBIUNG NGALULUGUAN PANGWANGUNAN ” yang disingkat
SABILULUNGAN.
- Sauyunan, memiliki arti seia sekata, sebuah komitmen untuk melakukan melaksanakan program kerja dan mencapai tujuan bersama;
- Babarengan, memiliki arti bersama-sama melaksanakan pekerjaan atau gotong royong,
- Ilubiung, memiliki arti turut serta dalam kegiatan pelaksanaan program atau partisipatif.
- Ngaluluguan, memiliki makna menjadi pionir, menjadi yang pertama mengerjakan sesuatu, teladan bagi para penerus program berikutnya;
- Pangwangunan, merupakan tujuan utama program, yaitu pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat.
Kabupaten Ciamis sebagai pusat peradaban sunda memiliki nilai-nilai kearifan budaya yang dapat di implementasi sebagai landasan pengelolaan pembangunan kabupaten ciamis, Kabupaten Ciamis memiliki nilai-nilai historis dengan nilai kearifan yang dapat kita lihat dalam prasasti kawali. Mahayu ayuna kadatuan sudah menjadi simbol pemerintahan daerah tetapi nilai-nilai prasasti belum di bumikan dalam penjabaran langkah-langkah operasional pengelolaan pembanguna yang mendasar pada kekuatan nilai-nilai prasasti yang menunjukan nilai kearifan dan kekuatan masyarakat galuh ( ciamis ) dalam mengelola daerahnya
Dalam prasasti Kawali Ciamis menggambarkan sifat dasar masyarakat galuh ciamis yang senantiasa menjunjung keindahan dengan nilai-nilai ajaran Prabu Niskala Wastu kancana
Adapun tulisan pada prasasti kawali adalah sebagai berikut:
Li nu sinya mulia tapa bha
gya parebu raja wastu
mangadeg di kuta kawa
Li nu mahayu na kadatuan
surawisesa nu marigi sa
Kuliling dayeuh nu najur sagala
Desa aya ma nu pa (n) deuri pakena
gawe rahayu pekeun heubeul ja
Ya dina buana.
Terjemahan
Yang bertapa di Kawali ini adalah
Yang mulia pertapa yang berbahagia
Parabu Raja wastu yang bertahta di
Kota Kawali, yang memperindah
Keraton Surawisesa, yang membuat parit (pertahanan)
sekeliling ibukota, yang menyejahterakan memajukan pertanian) seluruh negeri.
Semoga ada (mereka) yang kemudian mem-
Biasakan diri berbuat kebajikan agar
lama Berjaya di dunia
Mahayu na Kadatuan, Marigi, pakena gawe adalah kata kunci rencana strategi yang di bangun Prabu Niskala Wastu kancana, dalam membangun kemakmuran masyarakat galuh.
Akankah Tulisan batu prasasti hanya menjadi sebatas nilai sejarah, sebatas tulisan kuno yang antik. mari kita gagas kembali, untuk mengembalikan nilai-nilai prasasti kawali sebagai nilai kekuatan yang bisa menjadi landasan pemerintah daerah kabupaten ciamis dalam mencapai kemakmuran rakyatnya.
mang ojo

Tidak ada komentar:
Posting Komentar