Pages

Minggu, 19 Januari 2014

RBM Subtantif Fasilitasi FK-FT Padaherang

sebuah perjalanan berdirinya Pojok RBM “Pawitan” di Kecamatan Padaherang

Foto: RBM almost every night... everyone learn in a simple school made of bamboo, with every single simple thoughts... discuss and be strong... learning is our lifestyle, our dream is our future, and to realize is our present.
Berawal dari obrolan di sebuah warung kopi yang berada di desa Karangpawitan bersama beberapa orang penggiat desa yang tidak hanya berasal dari desa Karangpawitan, sebuah pepatah kuno seorang filsuf China yangterkenal dengan nama Confusius terlontar darimulut saya tanpa sengaja karena di kanan dan kiri warung kopi itu ditumbuhi pohonan rindang
.“Tidak mungkin sebuah pohon bisa memiliki batang ranting yang baik jika tidak memiliki akar yang kuat”, begitu kira-kira pepatah yang berasal dari utak-atik kata dalam nalar matematika bahasanya Confusius. Kemudian, diskusi berlanjut mengarah pada tataran tolok ukur kualitas sumber daya manusia yang dianalogikan terhadap sebuah pohon seperti disebutkan dalam pepatah kuno tadi. Ranting merupakan analogi atas kompetensi manusia, sedangkan akar merupakan analogi atas karakter manusia. Deskripsi kompetensi hanya sampai pada arti kemampuan menyelesaikan tugas, sedangkan deskripsi karakter sampai pada arti sejumlah sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari dalam menjalankan peran dan tanggung jawab. Adapun basis karakter sangatlah beragam, ideologi, paham (isme), organisasi, tradisi, agama, dan sebagainya.

Bicara kompetensi, Kemendiknas tidak luput terbahas bahwa dalam menjalankan program sampai tahun 2011 dinilai memiliki kelemahan atau bahkan kesalahan dengan menerapkan kurikulum pendidikan berbasis kompetensi. Karena mungkin dampaknya atas dasar kompetensi itulah negara Indonesia ini dibangun. Realitanya, banyak spesialis mumpuni dan kompeten di bidang ekonomi yang menjadi pejabat di negara ini. Bahkan, Wakil Presiden kita adalah seorang doktor di bidang ekonomi. Bicara realita lagi, kemudian negeri ini dibangun dibawah kepemimpinan para ekonom ahli manajerial administratif yang mungkin berfokus pada kompetensi bagaimana tatakelola administrasi yang baik sehingga kurang memperhatikan untuk apa dan untuk siapa pembangunan itu sendiri. Berkaitan dengan pembangunan, bahwa untuk membangun Indonesia tidak cukup hanya didasari oleh kompetensi saja, diperlukan perilaku baik untuk menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai manusia yang hidup di negara Indonesia. Dengan pemahaman karakter yang seperti itulah, maka jelas mulai dari Office Boy sampai Presiden masing-masing punya peran dan tanggung jawab untuk dijalankan.

Bicara tentang karakter dan tentang banyaknya ahli ekonomi yang menduduki berbagai jabatan pada himpunan pemerintahan negara, seharusnya negeri ini bisa lebih maju dengan menjalin kerjasama antar-negara terutama dalam upaya pengembangan perekonomian negara. Siapa yang tidak tahu tentang sebuah perusahaan besar asing berlabel Freeport menjadi perusahaan yang memiliki keuntungan atas potensi tambang emas di Timur Indonesia. Tapi mungkin banyak yang tidak tahu berapa besaran nilai yang dihasilkan Freeport dari tambang emas milik Indonesia tersebut. Konon menurut data tahun 2010 tentang penghasilan Freeport adalah sebesar 8.000 triliun rupiah, royalti 1% saja untuk Indonesia, 80 triliun rupiah. Konon menurut data juga, APBN Indonesia tahun 2010 adalah sebesar 1.100 triliun rupiah. Bisa dibayangkan, APBN untuk 230 juta orang dari Sabang sampai Merauke nilainya jauh dibawah penghasilan sebuah perusahaan asing yang berdiri di tanah air kita. Mungkin ini juga dampak dari program pendidikan dengan kurikulum yang dinilai salah tadi sampai-sampai bangsa Indonesia ini tidak paham bagaimana caranya berhitung. Tapi sejak tahun 2012, konon Kemendiknas sudah menerapkan program pendidikan dengan kurikulum berbasis karakter. Kita bisa berharap, tapi kita juga sudah menduga-duga dan sedikit paham bahwa tolok ukur kualitas sumber daya manusia mencakup kompetensi dan karakter.

Diskusi warung kopi ini semakin tajam, dari salah seorang yang terlibat diskusi warung kopi yang juga seorang petani terlontar bahasa yang mungkin didasari perhitungan siklus bercocok tanam, “jika ingin untung 3 bulan maka tanamlah Cabai, jika ingin untung 3 tahun maka tanamlah buah-buahan, jika ingin untung 30 tahun maka tanamlah hutan, dan jika ingin untung seumur hidup maka... tanamlah Sumber Daya Manusia”.

Dengan seringnya berdiskusi, berbagi pengalaman-pengalaman, bahkan berbagi masalah-masalah kehidupan yang terkadang berakhir dengan munculnya solusi atau sekedar menambah wawasan langkah pemecahan masalah, boleh dikatakan nyaris menjadi kebiasaan bagi mereka para penggiat desa terutama di lingkungan desa Karangpawitan. Berangkat dari kepedulian akan pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter, dengan harapan berimbas positif pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, muncul sebuah ide untuk membuat sebuah bangunan sederhana bertajuk Pojok RBM Pawitan. Padahal sebenarnya kata “ruang” pada frase Ruang Belajar Masyarakat itu tidak berarti sebuah bangunan, dengan diskusi di warung kopi saja mereka sudah menyentuh substansi daripada RBM itu sendiri. Tapi keinginan mereka untuk bisa lebih fokus dengan berbagai macam materi diskusi, pengalaman, dan permasalahan terlalu kuat sehingga berkeinginan untuk mendirikan sebuah tempat yang bisa dijadikan tempat belajar bagi siapa saja, sekaligus tempat menanam sumber daya manusia. Sedangkan, kata Pawitan sendiri berarti yang pertama atau bisa diartikan sebagai pelopor.

Singkat cerita, pandangan positif terhadap konsep pembangunan pojok RBM bermunculan dari berbagai kalangan terutama dari lembaga UPK yang memberikan dana bantuan untuk merealisasikan ide tersebut. Selainitu, swadaya dari para penggiat desa yang peduli terhadap pembangunan pojok RBM ini pun bermunculan, tidak hanya uang untuk dibelikan material kayu dan bambu saja, tenaga mereka pun direlakan untuk bisa ikut berpartisipasi dalam pembangunannya. Alasan mereka sangat sederhana, pojok RBM dengan konsep membangun sumber daya manusia yang berkarakter sangatlah dibutuhkan dan nantinya bangunan tersebut untuk dipergunakan oleh masyarakat juga untuk mendapatkan pengetahuan lebih mengenai berbagai hal.

Bangunannya yang sederhana menghasilkan rumusan konsep yang sederhana pula, tapi tidak dengan tujuan dan harapannya. Berbagai macam materi diskusi mulai dari pertanian, peternakan, ekonomi, politik, pemberdayaan dan bahasan lainnya kerapkali menjadi bahasan terbuka yang sangat menarik. Tidak ada guru dan tidak ada murid, semua bisa menjadi guru dan semua bisa menjadi murid di pojok RBM ini. Terlepas dari benar atau salah dalam berpendapat, toh semua dapat menanggapi dengan didasari nilai saling menghargai. Keterampilan dan keberanian untuk berbicara di hadapan umum akan terus terasah dengan cara seperti itu. Pola pikir mereka akan semakin tajam dalam pencarian solusi pemecahan permasalahan. Pemutaran film-film motivasi juga seringkali digelar sebagai suplemen yang dapat mengurangi tingkat kepenatan setelah menjalankan aktivitas keseharian. Tentunya tersedia pula gelas-gelas berisi kopi panas di setiap sesi diskusi atau pemutaran film. Untuk kopinya, bisa dibilang gratis dan bisa dibilang tidak gratis, karena disediakan kencleng dari kaleng untuk diisi uang sesuai dengan harga kopi di warung untuk setiap gelasnya ketika bubaran. Ini merupakan upaya menanamkan kejujuran bagi masyarakat. Ke depan, diharapkan lebih banyak lagi ruang terbuka bagi masyarakat dalam proses pembelajaran dan proses pembangunan karakter.

Confusius mengatakan, “karena lepas sebuah paku maka lepas sepatu kuda, karena lepas sepatu kuda maka kuda terjerembab, karena kuda terjerembab maka informasi tidak sampai ke garis depan, karena informasi tidak sampai ke garis depan maka pasukan tidak tahu strategi dan kalah perang, karena pasukan kalah perang maka negeri ini jatuh ke tangan orang asing”. Bagi Indonesia sekarang, paku itu adalah karakter. Paku hanyalah benda kecil, dan biasanya benda kecil seringkali disepelekan, padahal hanya karena sebuah paku lepas saja negeri ini bisa jatuh ke tangan orang asing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar