Pada Kondisi sosial saat ini, media telah menjadi kekuatan tersendiri dalam perubahan sosial. Media mampu membentuk, memberi fokus dan mempercepat opini publik. melalui infiltrasi komunikasi singkat dan fokus seperti yang tejadi melalui isu-isu di facebook dan tweeter
lebih cepat penyebarannya di bandingkan melalui berita-berita panjang dan tulisan yang berkecenderungan memiliki kepentingan dan keberpihakan
Terdapat sebuah dictum yang menyatakan media menciptakan pencitran positif, tetapi juga menghancurkan/membusukan citra. Dictum menciptakan citra positif dengan kata lain pencitraan dan penghancuran/pembusukan citra, inilah yang saat ini sedang terjadi di masyarakat kita dalam pengelolaan program-program yang bersentuhan dengan tema pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan, salah satunya PNPM Mandiri Perdesaan,
Selama Ini PNPM Mandiri menemukan citranya sangat positif dalam pengungkapan Keberhasilan Capaian sehingga menjadi Best Practice pengelolaan pembangunan berbasis partisipatif, tetapi di sisi lain, PNPM saat ini di sibukan dengan pemberitaan media massa seputar berbagai permasalahan implementasi program dan pernyataan yang mempertanyakan sejauhmana efektivitas program dan keberhasilan program di akhir program saat ini.
Nyaris pemberitaan program saat ini masih dianggap tidak berimbang, karena kurang optimalnya pemanfaat media jejaring sosial dan media on line lainnya yang nyata-nyata sudah masuk ke wilayah perdesaan terutama di kalangan generasi muda yang memerankan sebagai agen infiltrasi atau kampanye, yang mampu merembes pada linimasa yang sudah tidak tertarik pada isu dari media cetak apalagi media papan informasi.
Topsy dikenal sebagai perusahaan yang membuat perhitungan terkait kesuksesan sebuah kampanye atau istilah yang beredar di Twitter. Topsy juga melakukan penyaringan dari setiap kicauan (tweet) yang muncul di Twiter. sehingga Topsy cukup membantu untuk memperkuat penyebaran isu dengan kemampuan analisa sosialnya
Dalam Implementasi evaluasi informasi program topsy bisa jadikan alat evaluasi kinerja membangun kampanye informasi program, seperti pada gambar di atas nampak menggambarkan isu PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Ciamis sepanjang tanggal 21 Desember sampai 20 Januari mampu mengalahkan isu-isu pengelolaan PNPM tingkat propinsi ( Jateng dan Jabar ) he he, karena pengelolaan media jejaring sosial dikelola dengan opimal pada rentang periode saat itu..
Di sinilah media massa memiliki kekuatan yang besar dalam membangun opini linimasa dan mempengaruhi opini stakeholder. Pengelolaan Isu melalui penguatan media jejaring sosial mencoba melakukan intervensi pencitraan agar isu negatif bisa seimbang dengan isu positif, sehingga tidak memperlihatkan pencederaan kinerja diakibatkan isu negataif yang beredar, inilah upaya yang bisa dilakukan oleh kita sebagai juru kampanye program. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ahli komunikasi Jean Baudrillard, pencitraan mendiskualifikasi kategori kebenaran sehingga tidak bisa dibedakan lagi antara realitas, representasi, simulasi, dan hipperrealitas.
Meskipun lebih lanjut pengelolaan isu menurut Baudrillard menjelaskan empat fase citra (1981:17): pertama, representasi di mana citra merupakan cermin suatu realitas. Kedua, ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas. Ketiga, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas, kemudian citra berakting pada penampakkannya. Keempat, citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apa pun. Ia hanya menjadi yang menyerupai dirinya. Sehingga yang terpenting adalah keseimbangan isu bisa menjadi evaluasi terhadap persefsi publik untuk membangun keseimbangan dalam mempengaruhi emosi publik sebagai sebuah dinamika yang positif dan negatif kinerja kolektif yang tidak dinilai atau di justifikasi secara sepihak.
Narasi yang dibangun dan dipoles sedemikian rupa dengan bahasa, tidak sekedar untuk melukiskan suatu fenomena atau lingkungan, tetapi juga dapat mempengaruhi cara melihat lingkungan kita, Implikasinya, dan bahasa serta dapat digunakan untuk memberikan akses tertentu terhadap suatu peristiwa atau tindakan, misalnya dengan menekankan, mempertajam, memperlembut, mengagungkan, melecehkan, membelokkan, atau mengaburkan peristiwa atau tindakan tersebut.
Memanfaatkan media sosial sebagai bagian pengelolaan isu akan membangun kecerdesaan kolektif dalam memahami proses perjalanan pengelolaan sebuah kegiatan.
Memanfaatkan media sosial sebagai bagian pengelolaan isu akan membangun kecerdesaan kolektif dalam memahami proses perjalanan pengelolaan sebuah kegiatan.
.bmp)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar