Pages

Rabu, 20 November 2013

Terawang Potensi Negeri Sendiri ( Pojok Pikiran Okeu )

Saya dulu waktu masih SD senangnya main kaleng susu buat asyik-asyikan sendiri. Biasanya kaleng-kaleng susu itu saya tengkurapkan persis menyerupai susunan drum. Biasanya juga bapak saya nyekok telinga ini dengan lagu-lagu dari band terkenal pada masa beliau masih pacaran dulu, band Koes Plus yang legendaris itu lho. Dan yang paling sering di setel itu lagu “Kolam Susu”. Nah, jadilah saya mirip Muri sekarang, sambil mukul-mukulin kaleng-kaleng susu yang sudah saya susun mirip seperti instrumen drum tadi.
“… Orang bilang tanah kita tanah surga…
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”

            Belakangan, saya baru sadar ternyata keserbanikmatan yang dilukiskan oleh Koes Plus dalam lagunya itu malah jadi bumerang. Konon karena kesuburan alam yang seperti itulah orang Indonesia jadi pemalas dan pada akhirnya malah jadi gampang dijajah. Bandingkan dengan Jepang dan atau Negara-negara di Eropa.
            Israel saja yang konon tanahnya tandus, panas, dan gersang malah alamnya jadi hijau berkat kerja keras orang-orangnya. Bahkan ada taman gantung segala. Menurut kawan-kawan yang pernah berkunjung ke sana, indahnya seperti Taman Sriwedari, taman imajiner yang diceritakan dalam dunia pewayangan yang atas bantuan para jin dibangun sebagai persembahan dari Prabu Arjuna Sasrabahu kepada istrinya Dewi Citrawati.
            Maksud saya, kita tidak boleh heran kalau sekarang kita kebanjiran produk-produk mancanegara. Sudah dari sana-nya kita tidak dilahirkan sebagai produsen. Kita dilahirkan untuk bersantai-santai. Buat apa membanting tulang kalau semuanya tersedia… sayur mayur, tanaman obat herbal, dan sumber energi. Makanya, ada tontonan kesenian semacam Wayang Kulit di Jawa, atau Wayang Golek di Sunda, atau seni Sastra Tutur di Minang, dan masih banyak lagi kesenian lainnya yang seringkali digelar semalam suntuk.
            Di Negara lain, masyarakat tidak akan membiarkan dirinya membuka mata sepanjang malam. Ketika hari masih pagi, mereka harus cepat-cepat kerja, harus berdesak-desakan di angkutan-angkutan umum, mengumpulkan pangan sebelum datang pergantian musim. Selain musimnya ganti-ganti, cuaca harian juga berubah-rubah. Maka, tidak seperti di sini, acara prakiraan cuaca punya rating tinggi di TV. Remaja dan ibu-ibu serius nonton acara itu “biar gak salah kostum” katanya mereka.
            Tapi, cerita tentang kebudayaan adalah cerita tentang perubahan. Maka, saya tidak setuju seratus persen bahwa bangsa kita akan selamanya menjadi konsumen. Saya termasuk orang yang optimis bahwa makin hari kita akan makin dituntut untuk menjadi produsen karena alam mulai tidak ramah. Prakiraan cuaca dari BMG juga sering meleset, bulan yang biasanya kemarau saja belum tentu kemarau kalau diperhatikan sekarang ini. Sebaliknya, bulan yang diandal-andal turun hujan malah kemarau.
            Dunia pendidikan tinggi juga mulai memperhatikan kewirausahaan. Dulu, konsentrasi dunia universitas di Indonesia adalah mengajarkan ilmu dan teknologi. Sekarang, karena disadari bahwa tak mungkin kita terus-terusan menjadi konsumen, kampus-kampus mulai menekankan pendidikan kewirausahaan agar bangsa ini beralih menjadi produsen. Malahan sekarang ini lebih ngetrend dan terkesan modern dengan apa yang sering disebut ”entrepreneur” padahal, itu ya urusan kewirausahaan juga.
            Dan saya semakin optimis, karena banyak yang tidak sadar bahwa produk-produk dalam negeri sekarang pun mulai punya tempat di masyarakat. Siapa yang tahu sepeda bermerk Polygon itu buatan Surabaya ?? Siapa yang ngerti kalau produk susu dalam negeri berlabel SGM, Lactamil, Indomilk, Produgen dan Tropicana tidak kalah saing di pasaran yang sejak lama dikuasai label luar Nestle ?? Belum lagi sepatu dan sandal berlabel Eagle, New Era, Pakalolo dan alas-alas kaki buatan tangan orang-orang Cibaduyut juga tidak kalah saing. Siapa yang paham kalau sepatu dan sandal buatan tangan orang-orang Cibaduyut itu jadi alas kaki paling mahal di salah satu mal besar di Rusia ?? Saya juga tidak akan paham seandainya kawan-kawan saya gak cerita sehabis mereka jalan-jalan ke Rusia. Bahkan, menurut kawan saya yang rajin survey malah nyatet ada sampai 250-an merk dalam negeri yang lumayan mendapat tempat di masyarakat.

            Anda boleh menilai saya ngawur, tapi toh saya pikir tidak ada ruginya jadi orang yang optimistis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar